Puasa Para Wali
oleh : KH. Masruri Abdul Mughni
DALAM Alquran kata shiyam disebut delapan kali. Pada surat Al-Baqarah ayat 183, 187, dan 196 dua kali. Surat An-Nisa: 92, Al-Maidah: 89 dan 95 serta surat Al-Mujadalah: 41.
Kata shaum disebut satu kali yaitu di surat Maryam: 26. Kata shaimin disebut satu kali di surat Al-Ahzab: 35. Shaimat disebut satu kali dalam surat Al-Ahzab: 35. Tashumu disebut satu kali dalam Al-Baqarah: 184. Falyashumhu disebut satu kali di Al-Baqarah: 185.
Tiga belas kata shiyam atau shaum artinya sama, yaitu menahan makan, minum dan berhubungan seks di siang Ramadan. Hanya satu yang artinya berbeda yaitu kata shaum (QS Maryam: 26) yang artinya meninggalkan bicara.
Fakta dan kenyataan di dunia menunjukkan manusia lebih banyak shiyam. Yang menjalankan shaum hanya para wali yaitu tidak sekadar meninggalkan makan, minum dan berhubungan seks, tetapi juga meninggalkan bicara yang tidak ada artinya.
Dengan puasa, para wali berhasil mengislamkan warga Indonesia dari animisme dan dinamisme. Hal itu terjadi karena ketulusan dan kebersihan hati para wali dari ucapan yang kotor termasuk berdusta.
Luqman Hakim, ahli hikmah mengatakan, barang siapa yang bisa berpuasa dari dusta selama 40 hari, maka akan keluar dari mulutnya mutiara hikmah. Para wali di Indonesia, sebelum menyampaikan dakwah, berpuasa di tempat-tempat sepi atau lebih dikenal berkhalwat (semedi).
Sunan Kalijaga berkhalwat di pinggir kali, Sunan Muria di Gunung Muria, Sunan Bonang di Bonang, Sunan Gunungjati di gua Datul Kahfi di Cirebon, dan lain-lain. Maka layak, begitu para wali menyampaikan pesan-pesan dakwah langsung bisa diterima oleh umat.
Di Bagdad, Abu Yazid Al-Bustomi setelah berpuasa dengan model puasa para wali, suatu hari mendapat ilham untuk datang ke sebuah gereja. Dia masuk ke gereja dan bergabung dengan jemaat gereja.
Terjadilah peristiwa aneh. Pada saat Baba sang penginjil menyampaikan tausiah, tiba-tiba dia tidak bisa bicara. Mulutnya terkunci tidak keluar suara. Dia kemudian menghentikan ceramahnya. Setelah merenung sang Baba berkata, ‘’Di dalam gereja ini ada umat Muhammad. Saya bisa melihat dari sinar mukanya’’.
Mendengar itu, Abu Yazid buru-buru berdiri untuk keluar dari gereja. Tetapi sang Baba penginjil mencegahnya. ‘’Tuan, Anda jangan keluar. Kalau Anda bisa menjawab 19 pertanyaan saya, saya akan percaya dengan agama Anda dan mengikutinya’’.
Abu Yazid agak terkejut mendengar pernyataan sang Baba. Namun dia mempersilakannya menyampaikan 19 pertanyaan itu. Sang Baba kemudian menyampaikan satu persatu pertanyaan agar dijawab Abu Yazid.
Secara berututan dia bertanya siapakah dzat yang satu dan tidak ada duanya. Apa dua yang tidak ada tiganya, apa tiga yang tidak ada empatnya, apa empat yang tidak ada limanya, apa lima yang tidak ada keenamnya, apa enam yang tidak ada ketujuhnya.
Apa tujuh yang tidak ada kedelapannya, apa delapan yang tidak ada kesembilanya, apa sembilan yang tidak ada kesepuluhnya. Apa ke-10 yang tidak ada sebelasnya, apa 11 yang tidak ada keduabelasnya, apa 12 yang tidak ada ketigabelasnya, apa 13 tidak ada keempatbelasnya, apa yang Allah ciptakan namun Allah mengingkarinya, apa yang Allah ciptakan tapi dia mengutuknya, apa yang bernafas tanpa roh, apa kuburan yang berjalan membawa penghuni kuburnya, apa pohon-pohonan yang bercabang duabelas tiap cabang beranting 30 dan tiap ranting berbuah lima. Dan pertanyaan terakhir, apa kunci surga.
Abu Yazid dengan tegas menjawab ke-19 pertanyaan itu. Pertama, satu yang tidak ada keduanya adalah Allah swt. Dua yang tidak ada tiganya siang dan malam. Tiga yang tidak ada empatnya yaitu pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Khidir. Empat yang tidak ada limanya yaitu kitab samawi (Taurat, Zabur, Injil dan Alquran).
Lima yang tidak ada enamnya shalat wajib lima waktu. Enam yang tidak ada tujuhnya yaitu diciptakannya langit dan bumi (QS Qof: 38).
Sang Baba bertanya, ‘’Kenapa dalam ayat itu disebutkan Allah tidak merasa capai?’’. Abu Yazid menjawab, ‘’Karena orang Yahudi mengira bahwa hari ketujuh untuk istirahat Allah’’. Pertanyaan ketujuh, tujuh yang tidak ada delapannya ialah langit (QS Nuh:15). Pertanyaan kedelapan, delapan yang tidak ada sembilannya yaitu malaikat penjaga arsy (QS Al-Haqqoh: 117).
Sembilan yang tidak ada sepuluhnya yaitu mukjizat Nabi Musa (QS Al-Isra: 101). Sepuluh yang tidak ada sebelasnya yaitu amal kebaikan yang dilipatkan pahalanya 10 kali lipat. Sebelas yang tidak ada dua belasnya yaitu saudara-sudara Nabi Yusuf.
Dua belas yang tidak ada tiga belasnya yaitu pancuran air dari batu yang dipukul Nabi Musa. Tiga belas yang tidak ada empat belasnya yaitu sebelas saudara Nabi Yusuf ditambah bapak dan ibunya.
Allah menciptakannya tetapi menyebutnya sebagai munkar yaitu suara hewan khimar (QS Luqman:19) ‘’Sesungguhnya suara yang paling ingkar adalah suara khimar’’.
Jawaban dari pertanyaan Baba kelima belas yaitu tipu daya muslihat wanita (QS Yusuf: 28). Bernafas tanpa roh yaitu subuh (QS At-Taqwir: 18) wassubhi idza tanaffas.
Kuburan yang membawa penghuninya yaitu Ikan Hud yang menelan Nabi Yunus. Pohon yang bercabang 12 ialah tahun terdiri 12 bulan, tiap bulan 30 hari, tiap hari ada lima waktu shalat. Jawaban pertanyaan terakhir, kunci surga yaitu Laailaha Illallah Muhammadar Rasulullah.
Subhanallah, apa yang terjadi selanjutnya? Sang Baba dan seluruh penghuni gereja spontan mengucapkan kalimat syahadat dan menyatakan masuk Islam. Itu terjadi karena Abu Yazid Al-Bustomi setelah berpuasa dari berkata-kata kotor maka keluarlah mutiara hikmah dari mulutnya.
Dari mulut Abu Yazid yang bersih dan hati yang tulus masuk ke dalam telinga para penghuni gereja yang menembus dalam hati mereka. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Wallahu a’lam bishawab. (43)
— KH Masruri Mughni, Rois Syuriyah PWNU Jateng, pengasuh pondok pesantren Al-Hikmah2 Benda, Sirampog, Brebes
Kata Maaf Yang Tak Pernah Sampai
arya: Ulfah
Ya Allah…
Sanggupkah aku terus terbelenggu rasa ini
Sebuah perasaan yang menyakitkan
Rasa bersalah yang sulit mencari kata maaf
Namun…
Aku tak ingin kembali melewati hari agung-Mu
Tanpa sebuah maaf darinya. Tapi bagaimana caranya?
Jarak yang jauh menyulitkan semuanya
Ya Rabb… bantulah hamba-Mu ini.
Andini
Ditutupnya buku agenda kecil berwarna biru, kedua matanya sembab… terpampang jelas raut wajah sedihnya. Tiba-tiba segelintir kenangan-kenangan indah masa lalu berkelebat dalam pikirannya silih berganti begitu cepat, namun sekejap terganti oleh kenangan pahit yang menyesakkan dada.
Tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sesak sembari bibir mungilnya tak henti beristighfar mencoba menenangkan hatinya dan meminta ampun pada Sang Rabb.
Andini bersujud, berserah diri dalam do’a yang diiringi tangisan penyesalan. Ia bangkit dari sujudnya yang lumayan panjang, tak disadarinya lampu masjid sudah mati. Ia menengok kesekelilingnya. Sepi, sunyi, gelap yang dirasa. Sayup-sayup daun yang tertiup angin terdengar jelas dari samping kiri Masjid An-nur. Angin itu datang menyapanya tanpa belas kasihan, dingin menusuk tulang.
Andini masih enggan beranjak menuju kompleknya, ia masih ingin merenung. Ia merenungi dosa besar yang masih di tanggungnya. Pikirannya selalu dibayangi ketakutan luar biasa, apalagi setelah mendapat surat dari sahabat lamanya di SMP yang jauh disana. Andini masih ingat isi suratnya.
Andin, maaf… aku belum bisa menyampaikan amanatmu,
karena sekarang dia tidak tinggal di rumah,
Sinta bilang Arga sudah pergi ke pesantren
di Tasikmalaya satu tahun yang lalu, maaf yah…
surat yang kamu titipkan buat Arga dua minggu yang
lalu hilang, aku tak bermaksud menghilangkannya
surat itu diambil seseoarng dari tasku.
An, aku tahu kamu sangat berharap…
aku akan berusaha membantumu tapi aku tidak
berani janji.
Marsya
Andini tak bisa berbuat apapun kecuali hanya mengadu pada-Nya. Andini tahu merindukan kaum Adam yang bukan makhromnya adalah tak sepatutnya, tapi ini bukan lagi sebuah rindu cinta pada pria ajnabi, ini adalah rindu penyesalan seorang sahabat. Ia hanya ingin tahu masalah yang tak jelas kemuadian berubah besar. Dulu, Arga marah besar padanya tanpa penyebab yang jelas, kedekatannya dengan Arga tiba-tiba jauh…. Permintaan maaf dengan berbagai cara tak diresponnya, Arga memilih diam mengunci mulutnya. Hanya ucapan-ucapan kasar yang keluar dari mulutnya.
“Untuk apa aku mendekati makhluk paling menjijikan sepertinya…” Ucap Arga yang selalu terngiang dan terlalu sulit di lupakannya.
Andini hanya menyesalkan persahabatan dengannya yang baru saja terangkai dengan indah setelah dua tahun bagai kucing dan anjing terputus begitu saja.
“Astaghfirullohhaladzim…” Bibir mungilnya bergetar melafalkan dzikir seraya tangan kanannya memegangi tasbih birunya dan mutiara hatipun masih enggan berhenti membanjiri pipi lembutnya.
Namun, ia sadar… ia bukan lagi anak rumahan yang bebas mengekspresikan perasaannya, kini cap “santri” telah di tanggungnya. Pencarian maafpun menjadi jalan yang menyulitkan baginya. Ia hanya ingin kata maaf dari Arga sebelum hari agung itu kembali datang.
Andini menguap, rasa kantuk mulai datang menyerangnya, kantung matapun terasa begitu berat dirasakannya. Ia menyadari tubuhnya belum merasakan istirahat sementara jarum jam menunjukan pukul 12:00 malam tepat. Tanpa disadarinya ia tertidur dengan posisi sujud.
********
“Panggilan-panggilan di tujukan kepada Andini komplek Ummu Kultsum kamar satu dari Sukabumi di tunggu kedatanggannya di depan Masjid oleh keluarga”
Andini terdiam tak percaya kalau keluarganya datang menjeguknya, selama ia mesantren di Pon-pes Al-Hikmah di Brebes, Ia selalu di jenguk jika libur panjang, namun kali ini keluarganya datang bukan di hari libur.
“An, kamu hadiah….!” Kata sarah teman sekamarnya.
“Iya, aku dengar” Ucapnya sembari sibuk menata buku dan kitab-kitabnya.
“Sudah, nanti di lanjutkan lagi, Bapak kalih Ibu mriki kok mboten bungah, wonten nopo tho?” Timpal Azmi dengan logat Jawanya sembari tetap asik membaca majalah el-waha yang baru saja didapatkannya tadi pagi.
“Entos ah… sok atuh An tingali heula ka masjid, bilih leres. Panginten kadieu the aya kaperyogian” Kata Sarah, ia menggunakan bahasa Sunda karena sama-sama dari Sunda walaupun ia berasal dari Sumedang.
“Ya sudah aku ke Masjid dulu…!” Kata Andini sembari mengenakan kerudungnya.
“Assalamu’alaikum…!” Salam Andin sembari keluar dari kamarnya.
Andini menelusuri lorong-lorong atau santri-santri sering menyebutnya jalan suci menuju masjid Annur. Teras Masjid yang masih sepi saat Andini habis melaksanakan sholat Dhuha kini ramai dan padat oleh orangtua yang menjengguk anak-anaknya.
Kedua matanya menyusuri orang-orang yang berjubel di teras Masjid, namun tak terlihat keluarganya di antara mereka. Ia hanya mendengus kesal, tapi bukan karena tidak mendapati keluarganya, melainkan kesal melihat rumah Allah di jadikan tempat piknik satu keluarga dengan satu tikar. Sampah-sampah kecil berceceran dimana-mana, genangan air dari aqua gelas sisa didapatinya beberapa kali. Ya Allah… Andini hanya bisa berdo’a semoga Allah mengampuninya dan mengampuni mereka.
“Andini…!” Ada yang memanggilnya dari arah halaman Masjid yang di penuhi mobil-mobil mewah.
Andini menengok “Lucy?” Kager, tidak percaya, seketika berkecamuk dalam pikirannya. Lucy adalah sahabanya waktu SMP dan sepupu Arga.
Lucy berlari menghampirinya.
“Apa kabar? Ya Allah Andini, penampilan kamu beda banget, seperti Ustadzahh..!” Kata Lucy
Andini tersenyum “Alhamdulillah aku baik-baik saja. Eh… apa jangan-jangan yang di maksud keluarga itu adalah kamu?” Tanya Andini penuh curiga.
Lucy mengangguk “ Iya, biar terlalu kaget!” Jawabnya santai
“ Kamu sekolah di Aliyah apa SMA?”
“ Aliyah… kalau kamu?”
“ Andin, Andin, yah Aliyah lah… kan menepati janjiku”
Andin hanya mengangguk.
“ Ikut aku yuk…!” Lucy menarik tangannya menuju mobil APV warna cream yang terparkir di halaman GOR.
“ Lucy, bareng keluarga? Ada acara apa?” Tanya Andini semakin penasaran.
“ Itu…!” Arah pandangan Lucy tertuju pada pintu mobil bagian supir.
Andini memandang heran, tak ada perubahan, tak ada orang yang yang membuka pinru mobil itu.
“ Ih Lucy….!” Andini kesal
“ Tunggu sebentar!”
Andini menurut saja, tak lama pintu mobil itu terbuka pelan bersamaan dengan terlihatnya kaki yang mulai menapak ke tanah.
Subhanallah… Andini terkejut melihat sosok laki-laki yang tak asing lagi untuknya. Arga… orang yang dicarinya dua tahun ini. Satu senyuman tersungging darinya, Andini segera menunduk malu dibuatnya.
Penampilan Arga tak berubah, masih seperti dulu yang masih dengan cap ‘cowok cool se SMP’, padahal setahunya Arga juga masuk pesantren.
Kejadian masa lalu bermunculan secara tiba-tiba di benaknya…. Andini masih ingat sikap Arga yang berubah dingin, Andini masih mengingat ucapan-ucapan pedas yang dilontarkan untuknya. Andini masih ingat perpisahan tanpa pamitan dengannya. Saat itu, Andini terlalu lemah untuk menerima perubahan sikap sahabatnya, hatinya terlalu sakit terlebih dahulu tanpa tahu siapa yang salah diantara mereka.
***************
Andini duduk ditemani Lucy ditangga GOR, sementara Arga duduk sedikit menjauh dari mereka. Semuanya terdiam, tak ada yang mulai duluan. Lucy yang menjadi penengah hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari menengok kearah Arga lalu kearah Andini.
“Ih… ayo, siapa yang ingin mulai duluan, Tanya kabar atau apalah, jangan diam-diaman seperti itu” Kata Lucy tak sabar
“Apa kabar, An?” Kata Arga dengan suara datar.
“ Bikhoir…. Antum sendiri?”
Arga mengangguk “seperti yang kamu lihat…!”
Namun Andini dan Arga kembali terdiam.
“ Ih… kalian ini bagaimana, ayo keluarkan unek-unek kalian. An, bukannya dua tahun ini kamu mengharapkan bertemu Arga agar bisa minta maaf dan penjelasan. Kamu juga Ar… maksa ngajak aku kesini untuk menemui Andini. Sudah ketemu malah saling diam” Lucy akhirnya dibuat kesal dengan sikap kedua temannya.
“ Aku bingung, pertanyaan yang mana yang harus aku tanyakan, karana beribu pertanyaan telah tersedia sementara waktu yang tidak memungkinkan” Jelas Andini
“ Katakan saja An, kalau aku bisa menjawabnya Insaya Allah aku jawab” Kata Arga bijaksana
Andini menghela nafas panjang mencoba mengendalikan emosinya dan suasana hatinya.
“ Tentunya kamu masih ingat apa yang terjadi dua tahun yang lalu…!” Kata Andini
Arga mengangguk.
“ Tanpa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, kamu tiba-tiba menjauh dariku dan aku masih ingat kalimat menyakitkan yang kamu ucapkan ‘makhluk paling menjijikan didunia’ sehina itukah aku dimata kamu? Tapi karena apa? Kata maaf dariku pun tidak pernah kamu dengar…”
Mata Andini berkaca-kaca, Ia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Pertanyaan yang selalu tersimpan rapat itu akhirnya bias dia ucapkan dihadapan Arga.
“Itu sakit Arga… bahkan saat aku tahu kamu sengaja mengganti nomor handphone kamu gara-gara untuk menghindariku. Bahkan dulu, untuk ada ditempat yang sama saja kamu tidak sudi. Tapi, aku tidak akan pernah menyalahkan kamu, aku hanya … ingin meminta maaf atas semua kesalahanku. Maafkan aku dan aku berharap kamu masih menganggapku sahabatmu. Ku mohon maafkan aku, kamu tahu betapa tersiksanya aku karena terus merasa bersalah saat melewati hari raya. Ku mohon maafkan aku…” Air mata yang sedari tadi di tahannya kini mengalir deras membanjiri pipinya….
Sejenak keheningan kembali terulang, hanya suara isak tangis Andini yang terdengar jelas. Arga beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuruni tangga kemudian menengok kearah Andini.
“ Andini…!” Panggilnya pelan
Andini yang menekukkan wajahnya segera mengangkat wajahnya dan melihat kearah Arga yang lebih dulu menatapnya
“ An, sebenarnya…!” Arga kembali terdiam sejenak, sementara Andini harap-harap cemas menunggu apa yang akan dikatakannya.
“ Sebenarnya aku…!” Lagi-lagi Arga menghentikan ucapannya.
“ Mba bangun… mba ayo bangun…!” Seorang pengurus yang kebagian kontrol membangunkannya. Andini mengeliat bangun, dipandangi sekelilingnya. Gelap dan hanya terlihat wajah pengurus dengan raut wajah tenang dihadapannya. Lalu dimana Lucy dan Arga? Seingatnya dia sedang bersama mereka.
“ Ayo mba pulang, sudah jam satu malam…!”
“ Iya mba!”
Andini beranjak dari sajadahnya, ia hanya bisa mengelus dada menerima kenyataan kalau pertemuannya dan permintaan maafnya hanya sekedar mimpi yang menghiasi kelelahannya.
Dalam langkah menuju komplek, ia hanya berharap jika suatu saat nanti, ia benar-benar bisa menyampaikan maaf padanya meskipun entah kapan hal itu akan terjadi. Mungkin…SUATU SAAT NANTI.
THE END
Agar Terhindar Dari Maksiat
Bagaimana caranya agar bisa terhindar dari perbuatan maksiat ? mohon dijelaskan.
(Dari Hamba Allah, Kaligadung)
Jawab :
Barangkali cara yang pertama ialah dengan mengisi hati kita dengan berdzikir atau ingat kepada Allah, karena perbuat maksiat ini umumnya dilakukan dalam keadaan seorang ini lalai, artinya tidak teringat Allah. Karena itulah, penangkal pertama untuk menangkal kemaksiatan adalah hati yang ingat atau berdzikir, dalam arti ingat, tidak lupa, lalai atau dalam bahasa Arab disebut ghaflah. Inilah penangkal maksiat yang pertama.
Kemudian ditambah nanti harus ada kesabaran untuk menahan dari dan lain sebagainya, itu semua adalah tambahan dari berdzikir. Selama seorang ini berdzikir artinya selalu ingat Allah dan ketika berhadapan dengan nafsu untuk melakukan maksiat juga ingat Allah, saya kira Allah akan melindungi kita semua dari perbuatan maksiat itu tadi. Terimakasih.
SULAWESIku
Desa Baturube Kec. Bungku Utara Kab.Morowali Prov. Sulawesi Tengah, daerah yang sangat minim pengetahuan tentang Islam, tepatnya di desa Baturube tempat ku mencari Ridho Ilahi.
Menikmati Kesulitan dan Tantangan
Menikmati Kesulitan dan Tantangan
Kekuatan tidak didapat dari duduk santai dan pekerjaan gampangan. Kita bisa menanyakannya kepada para olahragawan, atlet binaraga misalnya. Segalanya datang dari kesulitan dan tantangan. Para atlet binaraga tahu bahwa mereka harus menempa semua otot mereka agar bertumbuh. Dan sama dengan hal itu, karakter kita akan ditempa dengan kesulitan yang kita temui.
Tanpa kesulitan, kita tidak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Kesulitan dalam hidup, hanyalah agar kita lebih mengenali kenikmatan hidup. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, akan membuat kita menjadi lebih kuat. Setiap tantangan yang kita lewati, menghasilkan kegembiraan yang lebih sempurna.
Tantangan memberi kita tugas untuk dikerjakan.
Bayangkan betapa keringnya hidup bila segala sesuatu muncul begitu saja saat kita inginkan. Hargailah masa susah, karena masa itu berlimpah kesempatan. Bangkitlah menghadapi tantangan pahit, dan hidup kita akan terasa manis.
Tahukah Kita.??
Nelayan-nelayan Jepang menggunakan bantuan burung Kormoran hidup untuk menangkap ikan. Kormoran adalah jenis burung laut pemakan ikan dengan kaki berselaput dan memiliki paruh berkantung seperti pelikan. Para nelayan Jepang kerap menjepit sayap Kormoran dan membawa kira-kira 10 hingga 12 ekor Kormoran dalam sebuah perahu kecil, selain diikat dengan tali, leher Kormoran dipasangi cincin kecil terbuat dari logam yang pas dengan ukuran leher Kormoran.
Kormoran selanjutnya dilepas untuk menangkap ikan. Saat ikan didapat, Kormoran tidak bisa menelannya karena ikan yang didapat tidak bisa melewati lehernya yang dijepit cincin logam. Saat itulah nelayan menarik Kormoran, lalu membuka mulutnya dan mengambil ikan di dalamnya, untuk selanjutnya melepas Kormoran kembali menangkap ikan. Kormoran akan terus menyelam dan menangkap ikan walau akhirnya ikan itu akan selalu diambil oleh nelayan.
Note :
Kata-kata Bijak Hari ini :
Agar dapat membahagiakan seseorang,………… isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan laparnya dengan makanan.!!
(Frederick E. Crane)
Asma Al Husna & Ma’nanya
إِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُ الصَّلاَةَ وَالدُّعَاءَ بِذِكْرِ اسْمِ اللهِ تَعَالَى الأَعْظَمِ وَ بِفَضْلِ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأَكْرَمِ . صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَلله اْلأَسْمَاءُ اْلحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا
| يَاالله ُ | يارَحْمَنُ | يارَحِيْمُ | يامَلِكُ | ياقُدُّوْسُ | ياسَلاَمُ | يَامُؤْمِنُ |
| Yã Allah | Yã Rahman | Yã Rahim | Yã Malik | Yã Quddus | Yã Salam | Yã Mu’min |
| Allah | Maha Pemurah | Maha Penyayang | Maha Merajai | Maha Suci | Maha Menyelamatkan | Maha Pemelihara Keamanan |
| يَامُهَيْمِنُ | يَاعَزِيْزُ | يَاجَبَّارُ | يَامُتَكَبِّرُ | يَاخَالِقُ | يَابَارِئُ | يَامُصَوِّرُ |
| Yã Muhaimin | Yã ‘Aziz | Yã Jabbar | Yã Mutakabbir | Yã Khaaliq | Yã Baari’ | Yã Mushawwir |
| Maha Penjaga | Maha Mulia | Maha Perkasa | Maha Megah | Maha Pencipta | Maha Pembuat | Maha Pembentuk |
| يَاغَفَّارُ | يَاقَهَّارُ | يَاوَهَّابُ | يَارَزَّاقُ | يَافَتَّاحُ | يَاعَلِيْمُ | يَاقَابِضُ |
| Yã Ghaffar | Yã Qahhar | Yã Wahhab | Yã Razzaq | Yã Fattah | Yã ‘Aliim | Yã Qaabidh |
| Maha Pengampun | Maha Pemaksa | Maha Pemberi | Maha Pemberi Rizqi | Maha Pembuka | Maha Mengetahui | Maha Pencabut |
| يَابَاسِطُ | يَاخَافِضُ | يَارَافِعُ | يَامُعِزُّ | يَامُذِلُّ | يَاسَمِيْعُ | يَابَصِيْرُ |
| Yã Baasith | Yã Khaafid | Yã Raafi’ | Yã Mu’izz | Yã Mudzill | Yã Samii’ | Yã Bashiir |
| Maha Meluaskan | Maha Menjatuhkan | Maha Mengangkat | Maha Pemberi Kemuliaan | Maha Pemberi Kehinaan | Maha Mendengar | Maha Melihat |
| يَاحَكَمُ | يَاعَدْلُ | يَالَطِيْفُ | يَاخَبِيْرُ | يَاحَلِيْمُ | يَاعَظِيْمُ | يَاغَفُوْرُ |
| Yã Hakam | Yã ‘Adl | Yã Lathiif | Yã Khabiir | Yã Haliim | Yã ‘Adziim | Yã Ghafuur |
| Maha Menetapkan Hukum | Maha Adil | Maha Lembut | Maha Waspada | Maha Penyantun | Maha Agung | Maha Pengampun |
| يَاشَكُوْرُ | يَاعَلِيُّ | يَاكَبِيْرُ | يَاحَفِيْظُ | يَامُقِيْتُ | يَاحَسِيْبُ | يَاجَلِيْلُ |
| Yã Syakuur | Yã ‘Aliy | Yã Kabiir | Yã Hafiidz | Yã Muqiit | Yã Hasiib | Yã Jaliil |
| Maha Menerima Syukur | Maha Tinggi | Maha Besar | Maha Pemelihara | Maha Pemberi Kecukupan | Maha Penjamin | Maha Agung |
| يَاكَرِيْمُ | يَارَقِيْبُ | يَامُجِيْبُ | يَاوَاسِعُ | يَاحَكِيْمُ | يَاوَدُوْدُ | يَامَجِيْدُ |
| Yã Kariim | Yã Raqiib | Yã Mujiib | Yã Waasi’ | Yã Hakiim | Yã Waduud | Yã Majiid |
| Maha Mulia | Maha Mengawasi | Maha Mengabulkan | Maha Luas | Maha Bijaksana | Maha Pengasih | Maha Mulia |
| يَابَاعِثُ | يَاشَهِيْدُ | يَاحَقُّ | يَاوَكِيْلُ | يَاقَوِيُّ | يَامَتِيْنُ | يَاوَلِيُّ |
| Yã Baa’its | Yã Syahiid | Yã Haq | Yã Wakil | Yã Qawiyy | Yã Matiin | Yã Waliyyu |
| Maha Membangkitkan | Maha Menyaksikan | Maha Benar | Maha Mewakili | Maha Kuat | Maha Kokoh | Maha Melindungi |
| يَاحَمِيْدُ | يَامُحْصِى | يَامُبْدِئُ | يَاْمُعِيْدُ | يَاْمُحْيِ | يَاْمُمِيْتُ | يَاحَيُّ |
| Yã Hamiid | Yã Muhshii | Yã Mubdi’u | Yã Mu’iid | Yã Muhyii | Yã Mumiit | Yã Hayyu |
| Maha Terpuji | Maha Menghitung | Maha Memulai | Maha Mengembalikan | Maha Menghidupkan | Maha Mematikan | Maha Hidup |
| يَاقَيُّوْمُ | يَاوَاجِدُ | يَامَاجِدُ | يَاوَاحِدُ | يَاأَحَدُ | يَاصَمَدُ | يَاقَادِرُ |
| Yã Qayyuum | Yã Waajidu | Yã Maajid | Yã Waahidu | Yã Ahadu | Yã Shamad | Yã Qaadir |
| Maha Berdikari | Maha Menemukan | Maha Mulia | Maha Esa | Maha Tunggal | Maha Dibutuhkan | Maha Kuasa |
| يَامُقْتَدِرُ | يَامُقَدَّمُ | يَامُؤَخِّرُ | يَاأَوَّلُ | يَاأخِرُ | يَاظَاهِرُ | يَابَاطِنُ |
| Yã Muqtadiru | Yã Muqaddam | Yã Mu’akhkhir | Yã Awwal | Yã Aakhir | Yã Zhaahir | Yã Baathin |
| Maha Menentukan | Maha Mendahulukan | Maha Mengakhirkan | Maha Pertama | Maha Akhir | Maha Nyata | Maha Tersembunyi |
| يَاوَالِيُّ | يَامُتَعَالِى | يَابَرُّ | يَاتَوَّابُ | يَامُنْتَقِمُ | يَاعَفُوُّ | يَارَؤُفُ |
| Yã Waali | Yã Muta’aali | Yã Barru | Yã Tawwaab | Yã Muntaqim | Yã ‘Afuwwu | Yã Ra’uuf |
| Maha Menguasai | Maha Tinggi | Maha Melimpahkan Kebaikan | Maha Menerima Taubat | Maha Membalas | Maha Pemaaf | Maha Penyayang |
| يَامَلِكَ الْمُلْكِ | يَاذَاالْجَلاَ لِ وَالإِ كْرَامِ | يَامُقْسِطُ | يَاجَامِعُ | يَاغَنِيُّ | يَامُغْنِى | |
| Yã Malikal-Mulki | Yã Dzal Jallali Wal Ikraam | Yã Muqsith | Yã Jaami’ | Yã Ghaniyyu | Yã Mughni | |
| Maha Menguasai Kerajaan | Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan | Maha Mengadili | Maha Menghimpun | Maha Kaya | Maha Pemberi Kekayaan | |
| يَامَانِعُ | يَاضَارُّ | يَانَافِعُ | يَانُوْرُ | يَاهَادِى | يَابَدِيْعُ | يَابَاقِى |
| Yã Maani’ | Yã Dhaar | Yã Naafi’ | Yã Nuur | Yã Haadi | Yã Badii’u | Yã Baaqii |
| Maha Mencegah | Maha Memberi Bahaya | Maha Memberi Manfaat | Maha Bercahaya | Maha Pemberi Petunjuk | Maha Pembaharu | Maha Kekal |
| يَاوَارِثُ | يَارَشِيْدُ | يَاصَبُوْرُ | لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ | |||
| Yã Waarits | Yã Rasyiid | Yã Shabuur | Lã ilãha illallah | |||
| Maha Mewarisi | Maha Pintar | Maha Sabar | Tiada Tuhan Selain Allah | |||
لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَوْجُوْدُ فِي كُلِّ زَمَانٍ, لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَعْبُوْدُ فِي كُلِّ مَكَانٍ, لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَذْكُوْرُ بِكُلِّ لِسَانٍ, لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَعْرُوْفُ بِاْلإِحْسَانِ, لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ في شَأْنٍ, لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلأَمَانَ اْلأَمَانَ مِنْ زَوَالِ اْلإِيْمَانِ وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانِ. يَاقَدِيْمَ اْلإِحْسَانِ كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانٍ, إِحْسَانُكَ اْلقَدِيْمُ. يَاحَنَّانُ يَامَنَّانُ يَارَحِيْمُ يَارَحْمَنُ يَاغَفُوْرُ يَاغَفَّارُ إِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وِسَلَّمَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالمَِيْنَ.
آمين
Dua Dunia
“kamu jangan bodoh, shofia … “kata Aisyah dengan gusar. Selalu begitu jika aku mulai membicarakan Daniel, maka Aisyah akan marah. “bagaimana mungkin kalia bisa bersatu?” nadanya mulai tinggi. “kalau Allah berkehendak, maka semuanya akan mungkin” sanggahku. “baik, Shofia. Kalau itu maumu, lakukan saja. Yang penting … aku sudah berusaha mengingatkanmu”.
“syukron, kamu memang sahabat yang baik” Aisyah melangkah meninggalkan kamarku, aku tahu ia kecewa.Tapi sudahlah, akupun tak ingin semua ini terjadi sebenarnya.
“Shofia … yakinlah, cinta ini akan mengalahkan segalanya. Dan aku akan kembali ke jalan Allah jika bersamamu. Percayalah, Daniel meyakinkanku kemarin sebelum aku berangkat kepesantren ini. Aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Pun ketika ia memberikan amplop putih, sebelum bus kurnia yang ku tumpangi beranjak. Aku tetap diam.
“tak seberapa tapi inilah hasil kerjaku, halal, sungguh… terimalah” katanya. Kemudian sambil meletakkan amplop itu di pangkuanku, lalu ia turun, melambaikan tangan dan kembali bergabung dengan anak-anak jalanan itu.
***
Daniel memang seorang preman. Lebih tepat lagi ketua preman, komlotannya sering mangkal di terminal. Ganas, kata orang, mereka garang. Sebenarnya aku sudah banyak mendengar hal itu sejak lama. Tapi satu tahun terahir ini aku baru mengatahui siapa mereka sebenarnya.
Pertama kali aku mengenal mereka, aku menjadi yakin bahwa tak ada sesuatu pun yang perlu aku takuti dari mereka. Sebenarnya mereka baik. Solidaritas antar teman tinggi. Dan jika menghormati menghargai tak melecehkan serta tidak memandang mereka sebelah mata, maka mereka akan bersikap baik. Bahkan lebih. Tapi sebaliknya jika pandangan sinis dan penghinaan mereka terima, maka jangan harap ada ampunan dari mereka. Mereka benar – benar kompak dalam segala.
Sayangnya … tak ada yang mengarahkan mereka, hingga jalan mereka tak tentu dan sekehendak mereka, seenak hati mereka. Padahal jika ada satu orang saja yang berpengaruh, alim dan mendapati simpati merek, maka mudah saja memperbaiki jalan yang mereka tempuh, setidaknya tak akan mengganggu orang lain lagi.
Dan itulah salah satu sebabnya, mengapa aku mau saja berhubungan demgan daniel. Ia yang mengepalai mereka. Dan jika kepalanya sudah tunduk tentu anak buahnya akan mengekor, begitu pikirku. Tapi yang menjadi masalah adalah status yang aku sandang, aku seorang santri perempuan. Orang-orang disekelilingku tak berpihak pada keputusanku. Terlebih Aisyah, dia sangat antipati pada lelaki itu.
“apa yang dapat kamu harapkan dari lelaki senacam dia?” kata itu selalu aku terima darinya dan orang – orang yang tahu hal ini. Memang benar, Daniel hanya seorang preman. “sudahlah … lupakan, dakwah toh tidak harus ditempuh dengan melakukan hal bodoh ini. Kurasa kamu tak akan sanggup “, solusi fahmi, kaka sepupuku. Padahal bukan itu jawaban yang aku inginkan. Ia laki-laki, aku kira ia akan memberikan dukungan, tapi ku terima malah sebaliknya.
“Atau … kamu sudah jatuh hati padanya?” tebak Aisyah suatu kali, telak, menohok dan aku tak bisa memberikan sanggahan apapun. Maka aku memilih diam.
“Benar? Kamu mencintai lelaki itu?” desak lagi.
“Entahlah … Aisyah. Aku tak tahu”
“Kalau itu jawabanmu, maka aku dapat menyimpulkannya” katanya berteka-teki.
“Aisy … Apa kesimpulanmu mengenai hal ini?”
“kamu mencintainya”
“Aisy …” Cuma itu yang keluar dari mulutku.
***
“Lalu apa gunanya kamu belajar di pesantren bertahun-tahun?” debat Aisyah kesekian kalinya.
“Maksudmu?”
“Maksudku … kamu tidak menginginkan pendamping hidup yang lebih dari kamu? Lihatlah Mariam, Siti, Rohayah. Mereka satu periode dengan kita. Dan sejkarang sudah berbahagia dengan suami yang shale. Kamu tak menginginkanya ?”
“Tentu saja aku ingin bahagia, bersama siapapun” kataku menerawang.
“Termasuk dengan gembel itu?” katanya makin sengit.
Aku tersengant. Meski gembel ia manusia, berhati berperasaan. Suatu waktu bisa saja mendapatkan hidayah. Dan aku heran dengan pandanganya yang kurasa amat sempit. Meski aku tahu, ia marah karena menyayangiku.
“Aisy … hati-hati kalau ngomong !” kataku ketus.
“oh kamu tidak terima, yah? Afwan deh. Tapi sekali lagi, kamu jangan terpedaya oleh janji-janji manisnya. Orang seperti dia itu tidak bisa dipercaya. Sekarang mungkin bisa berubah. Tapi setelah mendapatkanmu, kemungkinan untuk kembali itu besar”
“Lantas?” tantangku.
“Lantas kata-katamu tak lagi didengar. Dan kamu akan kecewa”
Robbi benarkah ?
***
Malam telah beranjak pada sepertiga akhirnya. Suasana pesantren sepi. Para santri masih dibuai mimpi, dalam hangat kamar yang berjejalan. Mereka tenang. Wajah-wajah mereka damai. Kecuali Aku. Aku gelisah, meski setengah jam telah ku lalui untuk meminta petunjuk-Nya. Petunjuk untuk langkahku. Petunjuk untuk keputusanku. Haruskan Daniel yang aku terima sebagai teman hidupku? Sebagai pendamping sejati? Sebagai Suami? Aku sendiri heran dengan hatiku. Mengapa bukan Ustadz Jalal, Ustadz Sabiq Arman atau Wafa teman satu pesantren yang mampu membuatku bimbang? Aku biasa saja ketika mereka mengungkapkan keinginan untuk melamarku. Tak ada beban pun ketika menolak mereka dengan hati-hati.
Lain ketika Daniel yang melakukannya. Aku terenyuh melihat penampilan lelaki itu. Rambut panjang pada kekar tubuhnya, tato ular naga, mata memerah dan sebotol vodka ditangan memang sempat membuat ciut nyaliku. Lalu dengan segenap keberanian aku anggukan kepala dan berikan senyum tulus. Hasilnya? Ia ternganga. Dan kata-katanya kemudian itulah yang membuatku semakin terharu.
“Mba tersenyum untuk saya?”
“Ya … tentu, kenapa, Mas?” tanya ku heran.
“Ha … Ha … Ha … Al Hamdulillah … Gusti Allah …” pekiknya dengan bacaan Hamdalah yang tidak faseh sama sekali.
“Ge Er amat, sich. Baru dikasih senyum” potong kawannya.
“He … Panjul. Dialah Gadis pertama yang memberiku senyum. Biasanya orang-orang melihat kita dengan sinis, bukan ? Lihatlah betapa tulus sikapnya menghargai kita”
“Mungkin karena takut. Ya ngga Neng ?” yang lain menimpali.
Ah … tidak kok. Aku yakin kalian tidak akan jahat jika aku menghormati kalian” kataku.
“Benar, Mba … Boleh kenalan dong” yang lain mengerubungiku. Dengan simpatik.
“Bo … Boleh saja. Tapi ini sudah hampir maghrib. Saya harus segera pulang. Bagaimana kalau lain waktu saja?” tolakku halus.
“Lho … Mba ini mau kemana? Dari mana?”
“Kejalan Sindang kasih. Saya dari pesantren di pantai utara. Mau liburan”
“wah … udah ngga ada angkot dong, Bos … Antarkan saja Mba ini”
Tamparan Seorang Kyai
ada seorang santri ….
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!